Uncategorized

Peristiwa Besar Umat Islam di Bulan Sya’ban
Featured

Peristiwa Besar Umat Islam di Bulan Sya’ban

Bersyukur kita pada Allah karena kita diberikan kembali kesempatan untuk tiba di bulan Sya’ban. Kita juga berdo’a semoga Allah berkenan menyampaikan kita ke bulan Ramadhan dan menjadikannya sebagai  momen beribadah terbaik.

Tiba bulan sya’ban, saat-nya bersiap menyambut mempersiapkan diri agar optimal di bulan turunnya Al Qur’an nanti. Sahabat dapat memulainnya dengan memperbanyak latihan shaum.

Selain itu, tahukah sahabat, jika kemuliaan Sya’ban, selain karena bersanding dengan bulan Ramadhan, Allah juga menjadikannya sebagai momen terjadinya beberapa peristiwa besar bagi kita umat Islam.

Mengapa peristiwa besar? Karena persitiwa tersebut mempengaruhi kehidupan kita sebagai hamba Allah subhaanahu wa ta’aalaa (S.W.T.).

Berbagai sumber menyebutkan setidaknya ada tiga peristiwa besar di bulan Sya’ban

  1. Perpindahan Kiblat

Mengutip salah satu artikel milik Kementrian Agama RI kanwil Provinsi Nusa Tenggara Barat, Imam an-Nawawi dalam Nihayatuz

Zein menyebut bahwa bulan Sya’ban adalah bulan paling mulia setelah bulan-bulan Haram (Asyhurul hurum), salah satunya adalah karena perubahan arah kiblat .

Bulan sya’ban ialah momen di mana Allah mengabulkan do’a Rasulullaah, Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa salaam (S.A.W.) agar arah kiblat dipindahkan. Yang semula shalat kea rah Baitul maqdis berubah ke arah ka’bah.

Sebelum terjadinya perpindahan arah kiblat, Kepala Rasulullaah S.A.W. mendongak ke atas, menunggu dan berharap wahyu Allah

S.W.T. turun. Para mufassir menyebutkan jika alasannya ialah Rasulullah S.A.W. kurang sreg jika harus berkiblat dengan kiblat yang sama dengan umat Yahudi.

 

Selain itu, Rasulullah S.A.W. juga berasalan jika Masjidil Haram ialah kiblatnya Nabi Ibrahim A.S. Kemudian, Rasulullaah juga berharap dengan dialihkannya kiblat ke Masjidil Haram, orang-orang Arab bisa tertarik masuk Islam.

Kisah harapan nan bersungguh Nabi Muhammad S.A.W. ini Allah abadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 144

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Oleh

karena itu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.

Sesungguhnya, Ahli Kitab mengetahui bahwa pemindahan kiblat itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah Diangkatnya Amal Ibadah Tahunan Perstiwa Agung di bulan Sya’ban bagi orang beriman berikutnya ialah diangkatnya amalan tahunan ke hadapan Allah S.W.T. Karena ini pula lah Rasulullah S.A.W. memperbanyak shaum di bulan ini.

Nabi Muhammad S.A.W. bersabda, “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal

Syaban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa-i no. 2329)

Dalam keterangan lainnya, Rasulullah S.A.W. juga bersabda jika banyak manusia yang melalaikan bulan ini, padahal pada bulan itu semua Allah diserahkan pada Allah S.W.T.

 

Penyerahan amal yang dimaksud ialah penyerahan seluruh rekapitulasi amal kita secara penuh, Dalam banyak keterangan, kita juga dapat menemukan pengangkatan amal, ada yang harian dan pekanan. Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, “Nabi shallallahualaihi wasallam bersabda, “Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit).

Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad 8341, Bukkhari 555, Muslim 1464 dan yang lainnya). Untuk yang pekanan, terjadi pada hari Senin dan Kamis. Karena itu pula lah Rasulullah S.A.W. men-sunnah-kan shaum.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu mengabarkan, “Aku pernah mendengar Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Amalan-amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Kamis malam Jumat. Orang yang memutus tali silaturahmi, amalannya tidak akan diterima. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat Tirmidzi dijelaskan, “Amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis. Dan aku suka saat amalku dilaporkan, kondisiku sedang puasa.”

 

Pelaporan amal harian, lebih khusus daripada pelaporan amal tahunan. Ketika ajal seseorang datang, seluruh amal perbuatan yang dia lakukan di selama hidupnya, akan diangkat seluruhnya. Kemudahan lembaran catatan amalnya akan digulung.”

Diturunkannya Syari’at Bershalawat Pada Rasulullah Muhammad S.A.W.

Pada bulan ini juga Allah S.W.T. men-syari’at-kan shalawat pada Nabi-Nya, Muhammad S.A.W. Yakni dengan turunnya surat Al- Ahzab ayat 56

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai, orang- orang beriman! Bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

Dari berbagai persitiwa di atas, mari sahabat kita tingkatkan ibadah dan amalan kita di bulan Sya’ban. Pertama dalam rangka mengamalkan sunnah Rasullullah S.A.W. dengan semangatnya, dengan syari’atnya, yakni shaum salah satunya.…